Sabtu, Oktober 25, 2008

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (4)

unc
by noenx's
HAL senada juga diiyakan beberapa teman dalam satu kelompok. Dwi Andrianto, Dani dan Paulus Pora, tiga tukang ojek yang satu tempat mangkal dengan Madi, mengungkapkan, setiap WPS yang diantar biasanya memang memberi tips yang lumayan. “Apalagi kalau tamunya memberi lebih dan pelayanannya cuma memakan waktu sebentar, alamat kita pasti dapat tips banyak,” ujar Dani, mewakili teman-temannya.
Saat ditanya tentang kemungkinan justru dirinya dan teman-teman menjadi penghubung antara WPS dan konsumen, Madi dan Andi menampik istilah tersebut. Keduanya mengaku mereka (WPS-red) biasanya sudah mempunyai channel sendiri-sendiri, otomatis karena sering diantar tentu tahu siapa dan dimana tempat biasanya mereka melayani, baik yang WPS lokalisasi ataupun yang free alias panggilan bebas.
“Mereka pun tetap enjoy meski kita tahu karena mereka sudah biasa, paling mereka memberi kita uang tip atau bayaran ongkos ojek lebih dari penumpang biasa. Kita tidak berani mengusik mereka, karena itulah sekaligus ladang nafkah kita,” ujar Madi, yang tidak jauh berbeda pendapatnya dengan Andi.
Lalu bagaimana sebenarnya interaksi antara Madi dan Andi beserta teman-temannya dengan WPS secara keseluruhan? Secara gamblang Madi menuturkan kalau mereka menganut sistem simbiosis mutualisme. Artinya tidak hanya memanfaatkan para WPS sebagai penumpang saja, namun lebih dari itu terkadang juga berbincang dan mendengarkan curhat dari mereka kalangan WPS.
“Dan bagi saya dan teman-teman saat-saat itu justru saat yang tepat untuk mencoba memasukkan nilai-nilai kesehatan, biarpun kita tidak memaksa mereka untuk keluar dari pekerjaan yang dianggap masyarakat sangat nista menjual diri,” ujar Madi.
“Hampir tiap malam saya selalu ngobrol dengan mereka, bisa dengan orang yang sama bisa juga dengan WPS yang berbeda. Soal waktu tidak tentu, kadang kalau si WPS-nya lagi sepi booking atau sehabis melayani tamu. Lain kali kalau minta diantar untuk belanja, nah di saat itulah banyak waktu yang kita biasanya ngobrol panjang lebar dengan berbagai topik,” imbuh Madi.
Langkah yang sama juga dilakukan Andri, Dani dan Paulus. Bersama rekan-rekannya yang lain, mereka memang selalu memanfaatkan waktu luang untuk berbincang-bincang ringan dengan para WPS. Mulai dari hal-hal yang lucu, mereka kemudian masuk ke sisi kesehatan.
“Istilahnya kita masuk nyerempet dulu, dan itu ternyata menjadi langkah cukup efektif untuk kita pancing mereka dan kita secara perlahan-lahan masuk ke obrolan kesehatannya, langkah ini memang harus dilakukan karena inilah satu-satunya cara untuk menggapai mereka,” terang Andri.
Begitupun dengan Andi dan kawan-kawan. Mereka memang cenderung untuk seolah bekerja sama, satu sisi demi pendapatan satu sisi lain juga pertemanan yang kental. Hal itu bsia dibuktikan dengan seringnya mereka dalam berinteraksi dan bertemu tatap muka. Apalagi dengan diselingi obrolan yang bisa menjurus pada cerita pribadi.
Mengerucut pada permasalahan WPS-ODHA, Madi dan Andi mengaku tidak terlalu banyak tahu tentang detail. Namun Madi berujar dirinya mengenal dan ada WPS yang berstatus terkena HIV. “Ada, dan itu justru yang paling dekat dengan saya. Kalau dengan saya dia biasanya sangat terbuka. Dia bahkan bercerita pengalaman seks-nya saat pertama kali, sampai tiba-tiba saja ia divonis terkena virus mematikan itu. Saya tidak takut sepanjang kita bisa membawa dan menjaga diri, semuanya pasti berjalan lancar. Pokoknya percaya saja dengan diri kita,” cerita Madi.
Andri, Dani, Paulus dan Andi-pun setali tiga uang. Interaksi antara dirinya dengan WPS-ODHA berlangsung seperti biasa, sama halnya dengan konsumen yang memanfaatkan jasanya menjadi seorang tukang ojek.
Mengenai usaha untuk menginduksi pemikiran WPS-ODHA tersebut tentang bahaya yang bisa terjangkit jika ia melakukan hubungan seksual dengan penggunanya, Madi mengaku sudah berusaha setiap saat untuk selalu memberitahu. Begitupun Andi yang mengajak teman-temannya untuk selalu aktif dalam menyerukan bahayanya pelayanan WPS-ODHA, tentu dengan bahasa yang halus.
“Nah itulah yang terkadang saya masih susah bilang ke dia. Dia kan terkena virus, otomatis saat di bersenggama virus itu menyebar dan menular ke orang lain, namun dia masih tetap tidak mau melepas statusnya sebagai WPS.
Jadi saya juga sering mengantarkannya ke tempat dia biasa dipesan konsumen. Cuma saya tetap tidak bosan-bosannya untuk menasehati di agar berhenti dari pekerjaanya, namun sampai sekarang belum juga berhasil,” jelas Madi.
Andi menyebut dirinya sangat jarang diberitahu apa saja yang dikerjakan WPS-ODHA tersebut saat melayani nafsu syahwat lelaki hidung belang. “Waduh...kalau itu saya kurang tahu pastinya, namun dia terkadang cerita kalau perlakuannya sama saja dengan yang lain. Sebagian besar dia bercerita tentang oral seks saja,” ujar Andi. (persda network/nurfahmi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (5)

by noenx's
SEMENTARA itu Madi mengaku daerah kerjanya sebagai tukang ojek bersama teman-temannya di kawasan Batu 15 Kota Tanjungpinang dikenal sebagai daerah teratur. Artinya segala sesuatunya yang menyangkut ke-WPS-an selalu berjalan baik. Begitupun yang terjadi di wilayah “kerja” Andi di kawasan Tanjungunggat, sudah terkenal dengan kebersihan dan keteraturannya dalam operasional pelayanan seks tersebut.
Madi mengungkapkan kawasan Batu 15 memang teratur, terutama jika dibandingkan dengan lokalisasi lainnya di kota Tanjungpinang ini. Selain penghuninya yang bisa diatur dan sangat guyub, keteraturan juga bisa dilihat dari sisi penjagaan kesehatannya. Bisa dibilang di sini faktor kesehatan sangat dipentingkan.
Di wilayah ini sudah ada slogan tamu harus membawa dan memakai kondom saat berhubungan intim dengan WPS. Para WPS juga diberikan aturan yang sama, yakni harus membawa kondom dan wajib memperingatkan pada konsumennya untuk tidak lupa menyiapkan kondom..
Jika belum punya atau belum membawa selalu dipersilahkan untuk membeli terlebih dulu. Selain itu di daerah ini juga terdapat klinik kesehatan reproduksi yang memberi kesempatan kepada seluruh penghuni untuk memeriksakan diri mereka. Biasanya mereka mengadakan pemeriksaan dua minggu sekali. “Di semua sudut lokalisasi ini keadaannya hampir semuanya seperti itu setiap harinya, jadi saya bisa menjamin jika keadaan dan prioritas terhadap kesehatan sangat diutamakan,” sebut Madi.
Sementara itu, meski di sekitar kawasan Tanjungunggat tidak terdapat unit pemeriksa, namun tetap saja semua penghuni yang biasanya berada di sekitar kawasan tersebut harus memeriksakan diri mereka. Paling tidak di sekitar klinik VCT di Puskesmas Pancur kota Tanjungpinang yang hanya berjarak tiga kilometer dari lokasi mereka.
Mengenai fungsi anggota tukang ojek lainnya, Madi dan Andi mengaku semua anggota justru berkewajiban untuk mengingatkan penghuni, biasanya memang seperti itu. Apalagi yang selalu mengikuti beragam training tentang kesehatan di lingkungan WPS, baik itu bagaimana cara berinteraksi sampai dengan detail penjagaan terhadap kemungkinan terkena penyakit.
Lalu apa yang dilakukan saat pertama kali pelanggan atau pengguna akan memasuki kawasan lokalisasi?Madi menuturkan ternyata sangat simpel. Pertanyaan yang biasa diajukan adalah Anda membawa kondom dan apakah Anda benar-benar sehat. “Setelah itu jika saya ragu saya selalu memberi nasehat yang intinya janganlah Anda menyebar sesuatu yang bisa merusak kesehatan jika memang Anda memilikinya,” imbuh Madi.
Meski tidak serumit Madi, namun tetap saja aturan baku dilakukan dan diberikan di kawasan Andi dan tempat mangkal ojeknya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke area kos para WPS, pasalnya biasanya Andi justru menyarankan untuk tidak melakukan apapun di lingkungan dan harus keluar dari kawasan tesebut.
Beberapa tindakan yang langsung dilakukan para tukang ojek dalam menghadapi dan menjaga lingkungan mereka adalah dengan menggunakan kata-kata, selain itu juga menempelkan poster-poster yang berisi tentang HIV/AIDS dan cara menjaga kesehatan alat reproduksi agar terhindar dari penyakit yang membahayakan, bukan hanya HIV dan AIDS tapi juga siphilis dan gonorrhae.
“Yup, kita juga merasa bertanggung jawab jadi kita laksanakan bersama-sama dan dilakukan secara konsisten,” tegas Andi yang disetujui Madi. Begitupun dengan teman-teman mereka.
Bagi Dani, Paulus dan Andri, apa yang mereka lakukan tentu akan memberi manfaat di kemudian hari, meski pada awalnya harus tertatih-tatih. Namun berkat kerja tim dan rasa tidak pernah menyerah dengan keadaan, pelan namun pasti usaha mereka mulai menampakkan hasil yang sangat positif, bukan hanya untuk kesehatan mereka namun juga citra terhadap kota mereka sendiri.
Mengenai dampak negatif dari aturan tersebut, Madi dan Andi menyebut setiap aturan pasti ada dampak negatifnya, minimal sekali adalah rasa dongkol bagi yang terbiasa melanggar dan menganggap remeh. Namun lama kelamaan semuanya berjalan normal dan mampu menciptakan secara bersama-sama sebuah lingkungan yang sehat meski berada di tempat lokalisasi. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (6)

by noenx's
MENGENAI pembiayaan untuk operasional mereka dalam hal di atas, Madi mencontohkan dia dan teman-temannya memang telah mengalokasikan secuil dana untuk kerja mereka, terutama menyediakan poster-poster sosialisasi.
“Kita menyisihkan sebagian pendapatan kita tiap minggu, namun tidak ada paksaan, toh poster-poster itu kan tidak seberapa modalnya, kebetulan kita juga punya teman yang membua poster, tentu kita dapat harganya miring,” ujar Madi, yang menyebut dalam sebulan uang yang terkumpul bisa mencapai Rp 500 ribu.
“Gak masalah tuh dengan langkah itu karena pada dasarnya yang terpenting bagi kita adalah tujuan yang akan kita sampaikan, semuanya demi kemaslahatan masyarakat, tidak hanya kita. Jadi tidak ada masalah kehilangan sedikit harta, daripada nanti terjadi sesuatu yang merugikan kita semua,” terang Paulus, yang mengaku minimal ia memberi iuran berupa materi sebesar Rp 100 ribu.
Saat ditanya bagaimana jika justru ditinggalkan penumpang yang mau masuk ke kawasan, Madi dengan gamblang mengatakan, ”Jelas kita tidak takut karena itulah aturannya di sini dan setiap tamu harus mematuhi apa yang sudah digariskan di wilayah ini. Jika mereka enggan atau bahkan melanggar, silahkan meninggalkan tempat ini. Tentang pelanggan kan berhubungan dengan rejeki, dan kita yakin yang di-Atas pasti sudah menentukan rejekinya, jadi kita tidak perlu takut, apalagi itu demi keselamatan atau kesehatan kita semua. Apa jadinya jika satu saja WPS terkena penyakit mengerikan, tentu semuanya bakal riskan terkena,” ungkap Madi panjang lebar.
Terkait pengetahuan tentang HIV dan AIDS, Madi dan Andi mengaku mendapatkan penjelasan singkat maupun detail dari beberapa pelatihan yang diikutinya. “Saya tahu dari beberapa pelatihan yang ikuti bersama teman-teman tukang ojek se-kota Tanjungpipinang,” kata Madi.
“Biasanya memang berkala. Saya pernah ikut pelatihan tiga hari bersama Yayasan Bentan Serumpun (YBS). Di situ saya diberi kuesioner terlebih dahulu, baru materi oleh beberapa orang diberi materi tertulis sampai di akhir kegiatan diberi tes lagi,” imbuh laki-laki yang sehari-harinya selalu menyempatkan diri untuk berdialog dengan keluarga tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakatnya.
Sedang Andi mengaku sangat senang dengan pelatihan yang ia dapatkan tentang HIV dan AIDS oleh yayasan. Ilmu dan pengetahuan, meski terbatas, tetap bisa diaplikasikan ke tengah masyarakat meski hanya dari mulut-mulut.
“Jelas senang, apalagi tidak hanya di tempat mangkal saja, namun akhirnya kita terdorong untuk menyampaikannya di lingkungan saya, dan saya juga mengatakan kepada teman-teman sesama pengojek untuk menyebarluaskan hal yang sama,” jelas Andi, yang sependapat dengan Madi.
Nada setuju juga dinyatakan Hamta, teman mangkal Andi. Ia yang mengikuti kegiatan pelatihan gelombang pertama di YBS bersama Andi mengaku mendapat banyak sekali manfaat dari materi yang ia peroleh. Selain kesehatan secara umum, ia juga bisa merasakan betapa banyak hal yang bisa ia petik dari dunia yang selama ini dekat dengan profesinya.
Betapa tidak, ia kini bisa mengaplikasikan apa yang telah didapatnya di pelatihan ke dunia nyata, yakni para WPS, agar bersikap hati-hati. Tidak itu saja, ia juga bisa bercerita kepada lingkungan sosial sesungguhnya saat ia berinteraksi. Satu lagi yang ia rasakan adalah kebanggan yang menyelinap di dalam dirinya jika ternyata ia bisa juga memberi sesuatu kepada orang lain. “Ya itu tadi, apalagi terkait HIV/AIDS,” imbuh bapak satu anak ini.
Mengenai hasil pelatihan dikonversikan pada tingkat keberhasilan di kawasan lokalisasi, Madi, Andi,. Lukas, Andri, Dani sampai Hamata menyebut karena maksud yang baik semuanya pun menerima, terutama para WPS. “Lain soal jika ternyata mereka menolak mentah-mentah, nah itu baru masalah besar. Namun sejauh ini tidak ada masalah meski tetap untuk yang pertama jelas ada kesulitan,” ujar Madi.
Ia menjelaskan kesulitan yang dirasakan bersama teman-temannya adalah saat pertama kali menjelaskan tentang maksud dan tujuan, belum termasuk pengusulan penggunaan piranti khusus. Pertentangan sempat dirasakan, terutama terhadap pihak-pihak yang sudah terbiasa tanpa aturan, apalagi yang berhubungan dengan kesehatan seksual.
Namun setelah dilakukan pendekatan secara persuasif, terus menerus dan kekeluargaan akhirnya ada kesadaran untuk mengetahui lebih lanjut. Sementara kesulitan lain pertama kali timbul khusus untuk penerimaan WPS adalah saat memperkenalkan penggunaan kondom sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya penyakit seksual. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (7)

by noenx's
”PERTAMA kali mereka menolak karena merasa tidak ada masalah saat melayani tamu tanpa kondom, namun kita selalu menjelaskan secara nyata dan kontinyu, sehingga lambat laun mereka sadar betapa pentingnya pemakaian pengaman saat berhubungan seks,” ujar Madi.
Tidak jauh berbeda, Andi mengaku tidak terlalu bermasalah untuk menyebarkan bahaya HIV dan AIDS, bahkan kini ia bersama teman-temannya membuat tempelan-tempelan dan sebaran-sebaran tentang HIV dan AIDS.
Semua piranti yang digunakan tersebut ia dapatkan dari hasil jerih payahnya bersama teman. Tentang materi tempelan atapun selebaran, Andi selalu mendapatkannya dari LSM, baik itu dari LSM YBS ataupun Yayasan AIDS Kota Tanjungpinang.
Selain di lokalisasi, Madi dan teman-temannya juga selalu memberi pengarahan terhadap penumpang setiap harinya, terutama yang berprofesi WPS atau pengguna.
“Setiap saya memboncengkan wanita malam yang berprofesi sebagai WPS saya selalu mengajak ngobrol sedikit demi sedikit dengan mereka. Setelah agak mencair suasananya biasanya saya baru masukkan pengertian tentang penyakit tersebut sekaligus bagaimana simpelnya mencegah tertular dan terjadinya virus tersebut ke tubuh manusia,” tegas Madi.
Efeknya langsung terasa, meski harus tetap pelan-pelan. “Jika sudah seperti itu biasanya sebelum saya antar dia ke tempat yang dituju baik itu rumah kos ataupun hotel, KTV dan tempat hiburan serta tempat prostitusi lainnya saya sarankan dia membawa alat pengaman, jika belum bawa, biasanya saya sarankan pakai kondom saja, sekaligus memberitahu kalau tamunya tidak makai kondom jangan mau karena bahayanya itu tadi,” jelas Madi.
Saat ditanya tentang penumpangnya yang WPS-ODHA, Andi menyebut tetap saja pihaknya terus memberi pengertian dan pemberitahuan jika apa yang dilakukan sangat merugikan orang lain, tentu dengan bahasa yang halus dan tidak menyinggung. Penekanannya lebih dalam terutama menyangkut bahaya penularan penyakit.
Mengenai kesuksesan menjalankan keteraturan di sekitar kawasan Batu 15, Madi mengaku bakal terus berjuang untuk semakin menertibkan dan menyehatkan lingkungan. Begitupun Andi, dengan pengalaman dan pengetahuan yang diberikan selama pelatihan HIV/AIDS, ia bakal berusaha semakin sering berkomunikasi dengan warga, karena ternyata hasilnya sangat memuaskan.
“Jelas masih banyak PR yang harus kita selesaikan. Memang sekarang sepertinya teratur tapi memang setiap orang kan tidak bisa dipastikan apa maunya. Mungkin saja karena merasa terdesak, meski tamunya sudah membeli kondom (meski mungkin terpaksa), ia mau saja melayani dengan ‘langsung’ tanpa penghalang apapun, dan mungkin saja ‘keluarnya’ di dalam karena tanggung alias kepalang tanggung. Nah itu yang terkadang tetap kita pikirkan,” jelas Madi.
Solusi awalnya Madi dan Andi seolah sangat kompak. “Kita tentu tidak bisa mengurusi privasi orang lain, tapi kita usahakan kita bisa tahu dan tanyakan kepada si WPS apakah saat melayani tamu menggunakan kondom atau tidak. Namun sekali lagi variable itu memang tidak terlalu meyakinkan, tapi kita bisa lihat hasilnya dari pemeriksaan kesehatan yang rutin dilakukan setiap dua minggu di klinik. Atau kalau tidak, jika si WPS sudah kita kenal baik kita pasti memperhatikan apakah ada sampah kondom atau tidak setelah mereka berhubungan,” ujar keduanya.
Jika ada gejala WPS tersebut tidak menggunakan kondom, tindakan yang dilakukan adalah menegurnya. “Karena bagaimanapun semua itu demi kesehatan seluruh penghuni, jangan gara-gara satu orang semuanya terkena. Karena yang saya tahu prinsip penyebaran HIV tergolong cepat, apalagi bisa saja tamu yang sama datang di malam berikutnya tapi beda WPS, itu yang sangat riskan bukan, beda dengan yang langganan,” tutur Madi.
Lalu bagaimana sikap para tukang ojek yang berada di luar sistem koordinasi kelompok alias yang bebas secara individu?Ternyata dari perbincangan dengan beberapa tukang ojek tersirat niatan mereka untuk meniru apa yang telah dilakukan rekan-rekannya yang tergabung dalam suatu kelompok atau tempat mangkal.
Satrio contohnya. Bapak tiga orang anak ini mengaku sebenarnya ia sering juga mengantar WPS ke sebuah tempat, namun tidak dalam bentuk langganan penumpang, karena memang dirinya selalu bergerak mencari penumpang baik di pasar, saat pergi-pulang anak-anak sekolah, pegawai pulang sampai malam harinya serabutan mencari penumpang.
“Asyik juga sih sebenarnya mengikuti pelatihan dan berkegiatan seperti yang diceritakan apalagi ini menyangkut HIV/AIDS, sesuatu yang selama ini belum saya ketahui, tapi ternyata belum bisa,” ujarnya. (persda network/nurfahmi budi)

Peran Tukang Ojek dalam Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS (8-habis))

by noenx's
KEINGINAN yang sama juga dirasakan Sasmito. Ia juga berkeinginan untuk menerima dan mengikuti materi tentang HIV/AIDS tersebut meski sampai saat ini belum pernah mendengar kabar tersebut.
Tentang teman-teman seprofesinya yang mengadakan kegiatan sosialisasi, Sasmito memberikan apresiasi positif tersendiri. “Ternyata tukang ojek sendiri bisa melakukannya, masa pihak yang lebih besar lagi tidak punya keinginan tersebut,” kata Sasmito, yang sangat berkeinginan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Begitulah sistem kinerja para tukang ojek di kota Tanjungpinang dalam usahanya membantu pemerintah dalam mencegah semakin berkembang dan menyebarnya virus HIV dan AIDS.
Apa yang dilakukan mereka seharusnya mampu memberi inspirasi dan motivasi terhadap pihak-pihak tertentu jika digarap dengan sungguh-sungguh ternyata mata pencaharian yang sebenarnya tidak menjanjikan justru bisa menjadi jembatan sempurna menuju kehidupan yang lebih baik dan sehat.
Sayangnya sampai saat ini Dinas Kesehatan (dinkes) kota Tanjungpinang seolah tidak peduli terhadap program untuk lebih memperhatikan masalah persebaran virus HIV, terutama bagi para WPS-ODHA, yang saat ini sepertinya masih bisa bebas berkeliaran.
Dr Eka Hanasarianto, Kadinkes Kota Tanjungpinang menuturkan saat ini pihaknya memang belum gencar untuk menyisir satu per satu lokalisasi atau tempat yang diduga sebagai tempat mangkal para WPS. “Kita masih sangat kekurangan tenaga lapangan untuk sekedar mensosialisasikan ataupun menyisir guna mencatat beberapa item terkait AIDS,” ujarnya. (persda network/nurfahmi budi)

Teman Baik, tak Selalu Bicara Uang (1)

by noenx's
JARUM jam sisi panjang menunjuk angka 12, sedangkan jarum yang lebih pendek tepat di posisi angka 4. Matahari-pun masih cukup terang menyinari setiap permukaan bumi di kota Tanjungpinang, khususnya di sekitar kawasan lokalisasi Batu 15.
Gardu depan sebagai pintu gerbang selalu tampak sibuk. Obrolan dan cengkrama tukang ojek berbaur dengan senyuman dan celotehan pengunjung warung makanan dan kedai kopi, yang setiap harinya selalu ramai dikunjungi.
Beberapa Wanita Pekerja Seks (WPS) juga mulai menampakkan diri meski hanya sebagian saja yang tampak sudah bersiap untuk “bekerja”. Mereka selalu berbaur dengan lingkungan sekitar, terutama dengan kalangan tukang ojek. Kedekatan mereka sangat tampak dari cara berbicara dan berprilaku, seolah mereka menasbihkan sebagai sebuah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan meski terkadang sisi negatif lebih dicondongkan ke tukang ojek.
Di bagian dalam kompleks, kesibukan beraktifitas juga sudah mulai terlihat sore itu. Ditemani semburat kuning matahari, beberapa WPS tampak sudah mulai menata diri dengan bersolek bersama-sama dalam satu rumah. Kompleks Batu 15 ini memang terdiri dari ratusan rumah di lahan seluas sekitar 3 hektar tersebut.
Setiap rumah biasanya diisi 3-5 WPS yang “berdinas” bersama-sama dalam melayani tamu. Namun memang tidak selamanya mereka melayani tamu di dalam rumah tersebut, terkadang ada pula yang menerima panggilan dan melayani tamunya di luar kompleks, seperti harus pergi ke kota Tanjungpinang untuk bertemu klien di hotel ataupun di rumah kos khusus.
Begitupun yang dilakukan Euis Riana yang terkenal dengan panggilan Misye dan Nurlita yang biasa disapa Ayu oleh kawan-kawannya sekompleks. Seperti halnya yang lain, seolah sudah menjadi awalan yang wajib dilakukan, mereka berdua setiap sorenya selalu bersolek dan menyiapkan diri untuk melayani para lelaki hidung belang guna memuaskan hawa nafsunya dengan berhubungan seks.
Setelah diawali dengan mandi, beragam produk kecantikan telah siap menantin mereka sebagai langkah wajib yang harus dilakukan. Produk seperti lotion, lipstik, eyes shadow sampai parfum selalu berada tidak jauh dari tubuh mereka.
Tak berapa lama dandanan mereka langsung berpadu dengan aroma wangi semerbak dari tubuh mereka, meski terkadang justru beraroma menyesakkan bagi siapa saja yang tidak suka dengan aroma parfum.
Setelah itu, sembari menunggu lelaki hidung belang yang menginginkan jasa kenikmatannya, Riana dan Nurlita bersama satu teman lainnya bercengkrama dan bergosip kesana kemari tak jelas juntrungannya. Biasanya mereka lakukan itu sampai menjelang pukul 20.00 WIB.
Selepas itu bisa dipastikan “orderan” tinggal tunggu waktu saja. Jika ada satu teman yang sudah mendapat konsumen, teman lainnya segera melepas dan biasanya langsung menghentikan pembicaraan, berubah menjadi pasang aksi guna menarik perhatian lelaki hidung belang yang lewat di depan rumah tinggal.
Selain rayuan kata-kata, Nurlita dan Riana juga menunjukkan kelebihannya dalam hal kondisi tubuh. Umur mereka yang relatif tidak terlalu tua, Nurlita (28) dan Riana (30), memang masih bisa langsung meningkatkan adrenalin laki-laki pencari pemuasan hawa syahwat mereka. Tak sampai tengah malam, biasanya kedua WPS ini sudah mendapat konsumen masing-masing. (persda network/nurfahmi budi)

Teman Baik, tak Selalu Bicara Uang (2)

by noenx's
ITULAH yang selalu rutin dilakukan Nurlita dan Riana setiap harinya. Itupula yang juga dikerjakan oleh hampir seluruh penghuni lokalisasi Batu 15, lokasi yang sebenarnya terletak jauh dari jalan utama, namun justru menjadi kompleks ramai dan terbilang bersih dan teratur.
Bagi Riana, kondisi sekarang yang harus dijalani sebagai seorang WPS tentu tidak menjadi tujuan utama yang dulu sempat dibayangkannya. Meski sempat terlintas untuk menjadi seorang TKI, namun jalan hidup membawanya kepada pekerjaan yang berada di luar perkiraannya.
Menjadi WPS, bagi Riana adalah keterpaksaan. Ia harus menanggung akibat sebagai korban penipuan yang dilakukan temannya sendiri. Wanita asal Tasikmalaya Jawa Barat ini harus terjun ke dunia WPS setelah keperawanannya direnggut seorang Apek asal Singapura. Meski sangat sakit, namun justru uang yang menjadi daya tarik seorang Riana.
Setelah peristiwa tersebut, ia langsung berpikir untuk terjun saja langsung karena sudah kepalang basah. “Akhirnya memang aku harus terjun ke dunia ini dan sampai di Batu 15 ini, perasaan tetap pengen keluar, tapi tetap saja belum bisa kulakukan,” ujarnya, saat bercerita seluk beluk kehidupannya hingga ia seolah terdampar di kota Gurindam ini dan menjadi WPS sejak tahun 2001.
Sementara Nurlita cenderung terseret sebagai pelayan nafsu laki-laki ini disebabkan desakan kebutuhan ekonomi saat hidup di Batam. Karena merasa mudah memperoleh uang dengan kenikmatan, Nurlita mengaku mau tidak mau terjun sebagai WPS dan juga wanita panggilan.
Mengenai interaksi dengan tukang ojek, Nurlita dan Riana menjelaskan hampir semua teman-teman seprofesinya sangat dekat dan membutuhkan kehadiran dan jasa seorang tukang ojek.
Tidak hanya sebagai pengantar ke tamu di luar atau berbelanja kebutuhan sehari-hari ke kota, lebih dari itu ternyata tukang ojek bisa sebagai tempat curhat jika menghadapi masalah yang cukup pelik menyangkut kehidupan seperti kangen dengan keluarga di kampung halaman sampai masalah kekurangan uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Riana menganggap mereka ada orang-orang yang spesial dan multifungsi. Mereka bisa menjadi teman yang sangat dekat, teman curhat, teman bermain dan bercanda meski terkadang tetap saja ada tukang ojek yang usil dan menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai.
“Tapi yang jelas, mereka (tukang ojek-red) adalah teman baik yang tidak selalu berbicara tentang uang, itulah yang membuat kita bisa dekat dengan mereka dalam keseharian,” tutur Riana, sembari membetulkan letak tanktop merah mudanya yang agak bergeser ke samping kanan. (persda network/nurfahmi)